Skip to main content

Belanja Keluarga lebih utama

Hikmah Hari ini Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Satu Dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (H.R Muslim)

Terkadang kita sebagai makhluk sosial terketuk ketika melihat pengemis di pinggir jalan, persimpangan lampu merah, atau pembebasan lahan masjid misalnya. Namun menurut hadits ini, ternyata lebih mulia jika kita penuhi hak-hak keluarga, termasuk di dalamnya anak-istri, dan orang tua. Kalau keluarga sudah lepas dari kata "kurang", baru deh boleh keluarkan infaq shadaqoh ke pos-pos lain.

Dulu, orang tua mengingatkan saya karena hobi nolongin orang.  Padahal uangnya bukan jerih payah sendiri, tapi masih "ngemis" ke orang tua, maklum mahasiswa. Mereka bilang, "kalau mau ngasih-ngasih, masih banyak sodara kita yang kekurangan". Tapi saya tidak begitu menggubris, karena... yaitu dia... di depan mata saya, tetangga kost ada yang kekurangan.

Pelajaran yang bisa diambil adalah, kalo minta dana ke orang kaya, kalo gak dikasih ato cuman sedikit ya disyukuri saja. Belum tentu dia pelit, banyak sodaranya barangkali yang lebih membutuhkan. Tak bisa kita menebak, sedangkan nanya detil juga namanya kurang kerjaan
Lainnya, tentu saja lebih mantap dalam beramal, karena beramal perlu ilmu.

Allahu a'lam

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Setan tak bisa menembus dinding

Betapa kita, saya dan anda, seringkali salah kaprah tentang setan, dan jin. Film-film turut menanamkan pengertian yang salah. Berapa banyak film yang menggambarkan setan/jin itu bisa menembus dinding, tiba-tiba muncul di ruangan tertentu. Nampaknya hadits berikut menjadi salah satu kabar yang menutup kesalahan pemahaman tersebut. Dari Jabir ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda:“Tutuplah bejana, ikatlah tempat air, tutuplah pintu-pintu dan padamkanlah lampu, sesungguhnya setan itu tidak akan bisa melepaskan ikatan, tidak bisa membuka pintu dan tidak bisa membuka bejana. Seandainya salah seorang diantara kalian tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk menutupnya kecuali hanya meletakkan lidi di atas bejana itu, maka lakukanlah yang demikian itu dengan menyebut nama Allah,karena sesungguhnya tikus itu bisa menyebabkan terbakarnya rumah.” (HR. Muslim)

Pulang Tenggo [mirip tengbur]

Kalo Mbak Sya2 punya pengalaman tengbur, saya ada pengalaman Tenggo. Tenggo ini bukannya produk makanan, tenggo = begitu teng jam 16.30 langsung GO ! Hehehe... Suatu hari kami bertiga (IT Department cuman bertiga) dipanggil, gak tanggung langsung ke Direksi, karena emang jalurnya langsung di bawah Direksi. Diceramahin macem-macem, yang masih muda lah, yang masih terang lah di luar sana (emang kudu nunggu gelap baru pulang Pak ?) Saya ada setujunya tuh sama Mbak Sya2, bahwa hak karyawan untuk bisa pulang pada waktunya. Namun setelah ditegur sama Bos, saya juga agak molorin lah sedikit, dari yang mestinya 16.30 (kami masuk jam 7.30, sabtu libur) jadi jam 17.15 atau 17.30, tergantung Bosnya udah pulang apa belum.  Tapi emang kadang-kadang si Bos ini gila kerja. Pernah dia pulang jam 9 malem, walaah... kalo di Medan saya belum banyak melihat fenomena ngelembur sampe jam segitu. Kalo di Jakarta mah, biasa kali ya... sambil nunggu macet. Tapi, ada tapinya deh... ngaku gak kalo di kantor ...

The 7 Habits of Highly Effective People

Supaya gak ilang ditelan zaman, ada baiknya disimpen sebagai harta yang cukup berharga. Summary of Stephen R. Covey's The 7 Habits of Highly Effective People In his #1 bestseller, Stephen R. Covey presented a framework for personal effectiveness. The following is a summary of the first part of his book, concluding with a list of the seven habits. Inside-Out: The Change Starts from Within While working on his doctorate in the 1970's, Stephen R. Covey reviewed 200 years of literature on success. He noticed that since the 1920's, success writings have focused on solutions to specific problems. In some cases such tactical advice may have been effective, but only for immediate issues and not for the long-term, underlying ones. The success literature of the last half of the 20th century largely attributed success to personality traits, skills, techniques, maintaining a positive attitude, etc. This philosophy can be referred to as the Personality Ethic . However, during the 150 y...