Sudah menjadi sifat manusia rasa "bosan" itu ada. Kalau gak ada, tentu gak pernah ada di kamus bahasa indonesia kata bosan. Orang bule sekali pun juga punya sifat bosan, buktinya mereka menggunakan kata "bored". Persamaannya di awali dengan "bo". Perbedaannya yang satu pake "san" yang satu lagi "red".
Bagaimana dengan binatang ?
Bagaimana dengan tanaman ?
Apakah mereka mengenal sesuatu hal yang jika dilakukan terus-menerus akan terasa bosan, jemu, bahkan... muak ! Walau pun pekerjaan itu adalah hal-hal yang dia sukai. Sayang belum ada yang bisa nerjemahkan bahasa dunia flora dan fauna ya.
Misalnya saya, hoby banget sama dunia teknologi. Kalau udah di depan pc apalagi yang nyantol ke kabel utp (belom wireless nih waktu nulis) langsung deh ON. Tapi tidak jarang juga ketemu kata "suntuk", sodara tiri dari "bosan, jemu, muak" tadi.
Dalam istilah dunia persilatan dakwah, orang biasa menyebutnya "futur". Futur yang memakai bahasa Arab, sebenarnya memiliki arti yang berbeda dengan bosan. If I dont miss, it means stopped after move, as sukut ba'da al-harakah, berhenti setelah sebelumnya bergerak. Tapi saya melihat ada lah irisan-irisan antara keduanya.
Misal : karena bosan melakukan hal yang itu-itu terus, akhirnya hal itu pun dihentikan. Bosan ngoding program, biasanya dicuekin dulu, mentok sih. Bosan makan enak, nyari tempe, sambel terasi dan makanan khas daerah. Bosan di rumah aja, pergi ke luar untuk refreshing, bisa ke gunung, ke pantai, tapi ada juga yang memburu "seminar spiritual". Yang repot bosan miskin, susah juga untuk nyicipin jadi orang kaya. Cuman bisa ngiri. Bosan dengerin ocehan ukhuwah islamiyah, padahal gak pernah ada yang bantuin kondisi perekonomian keluarga yang bukan lagi seret, tapi tersedak-sedak. Akhirnya cabut.
To be consistent... tough... tegar... kokoh... mantap... top, itu sulit. Bukan kata orang kok, cobain aja sendiri. Kalau bahasa arabnya istiqomah. Bahkan Rasulullah SAW pun beruban ketika turunnya surat Hud:112. Abu Sufyan pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang apa lagi yang harus diperbuat setelah ber-Islam sehingga ia tak akan pernah bertanya lagi kepada beliau SAW. Jawaban simple "istiqomah" pun terluncur. Maknanya bisa menyempit, dan sesimple-simplenya. Tetap pada ke-Islaman, itulah istiqomah. Tapi bisa jadi kalo dipikirin, jadi puanjaang banget. Islam toh tak hanya sebatas shalat. Kalau pun iya, shalat macem mana ? Shalat di mana ?
Tarbiyah dan masa yang dijalaninya, memang bukan jaminan seseorang lebih matang. Seperti wise word berikut "tua itu pasti, bijaksana dan dewasa itu pilihan". Tak ada jaminan seseorang lebih dicintai Allah swt karena tarbiyah, apalagi jaminan masuk surga. Tak ada kepastian dengan tarbiyah seseorang bisa lebih istiqomah. Namun setidaknya, dengan tarbiyah seseorang telah dikenalkan tentang apa itu istiqomah. Sehingga ketika gempa berkekuatan besar memporak-porandakan, tsunami menghanyutkan semuanya, tindakan opresif nan menyakitkan, tak ada orang yang dapat membantu selain diri sendiri... pengalaman tarbiyah dapat memberikan sandaran hati bagi orang yang mencari.
Semoga dalam kesendiriannya, Allah swt tetap mencintainya dan menyisipkan keberkahan dan rahmat untuk kembali kepada kebiasaan-kebiasaan baiknya. Shalat berjamaah di masjid tepat waktu, shaum sunnah, tilawah quran 1 juz tiap harinya, qiyamullail. Minimal itu.
Bagaimana dengan binatang ?
Bagaimana dengan tanaman ?
Apakah mereka mengenal sesuatu hal yang jika dilakukan terus-menerus akan terasa bosan, jemu, bahkan... muak ! Walau pun pekerjaan itu adalah hal-hal yang dia sukai. Sayang belum ada yang bisa nerjemahkan bahasa dunia flora dan fauna ya.
Misalnya saya, hoby banget sama dunia teknologi. Kalau udah di depan pc apalagi yang nyantol ke kabel utp (belom wireless nih waktu nulis) langsung deh ON. Tapi tidak jarang juga ketemu kata "suntuk", sodara tiri dari "bosan, jemu, muak" tadi.
Dalam istilah dunia persilatan dakwah, orang biasa menyebutnya "futur". Futur yang memakai bahasa Arab, sebenarnya memiliki arti yang berbeda dengan bosan. If I dont miss, it means stopped after move, as sukut ba'da al-harakah, berhenti setelah sebelumnya bergerak. Tapi saya melihat ada lah irisan-irisan antara keduanya.
Misal : karena bosan melakukan hal yang itu-itu terus, akhirnya hal itu pun dihentikan. Bosan ngoding program, biasanya dicuekin dulu, mentok sih. Bosan makan enak, nyari tempe, sambel terasi dan makanan khas daerah. Bosan di rumah aja, pergi ke luar untuk refreshing, bisa ke gunung, ke pantai, tapi ada juga yang memburu "seminar spiritual". Yang repot bosan miskin, susah juga untuk nyicipin jadi orang kaya. Cuman bisa ngiri. Bosan dengerin ocehan ukhuwah islamiyah, padahal gak pernah ada yang bantuin kondisi perekonomian keluarga yang bukan lagi seret, tapi tersedak-sedak. Akhirnya cabut.
To be consistent... tough... tegar... kokoh... mantap... top, itu sulit. Bukan kata orang kok, cobain aja sendiri. Kalau bahasa arabnya istiqomah. Bahkan Rasulullah SAW pun beruban ketika turunnya surat Hud:112. Abu Sufyan pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang apa lagi yang harus diperbuat setelah ber-Islam sehingga ia tak akan pernah bertanya lagi kepada beliau SAW. Jawaban simple "istiqomah" pun terluncur. Maknanya bisa menyempit, dan sesimple-simplenya. Tetap pada ke-Islaman, itulah istiqomah. Tapi bisa jadi kalo dipikirin, jadi puanjaang banget. Islam toh tak hanya sebatas shalat. Kalau pun iya, shalat macem mana ? Shalat di mana ?
Tarbiyah dan masa yang dijalaninya, memang bukan jaminan seseorang lebih matang. Seperti wise word berikut "tua itu pasti, bijaksana dan dewasa itu pilihan". Tak ada jaminan seseorang lebih dicintai Allah swt karena tarbiyah, apalagi jaminan masuk surga. Tak ada kepastian dengan tarbiyah seseorang bisa lebih istiqomah. Namun setidaknya, dengan tarbiyah seseorang telah dikenalkan tentang apa itu istiqomah. Sehingga ketika gempa berkekuatan besar memporak-porandakan, tsunami menghanyutkan semuanya, tindakan opresif nan menyakitkan, tak ada orang yang dapat membantu selain diri sendiri... pengalaman tarbiyah dapat memberikan sandaran hati bagi orang yang mencari.
Semoga dalam kesendiriannya, Allah swt tetap mencintainya dan menyisipkan keberkahan dan rahmat untuk kembali kepada kebiasaan-kebiasaan baiknya. Shalat berjamaah di masjid tepat waktu, shaum sunnah, tilawah quran 1 juz tiap harinya, qiyamullail. Minimal itu.
sekarang aku lagi bosaaannnn.. huhuhu...
ReplyDeletelho ko jadi curhat :)
Yup, bagus banget artikelnya. saya jg pernah ngalamin perasaan futur se futur2nya, alias mentok, ga ngapa-ngapain. dan memang butuh cambuk utk bisa bangkit lagi. TFS
ReplyDeletebosan apa nih, bukan bosan sama anak-anak kan teh ina ?
ReplyDeletemangkanya manusia selalu ada masalah.. biar ga bosan dan pasti lebih kreatif,nambah wawasan kalau di tanggapinya demgan positif
ReplyDeletenah yang model bgini seharusnya berpikir ;-)
ReplyDeletejadi kalo lagi bosan, cari gara-gara aja ya de ? hihihi