Skip to main content

Libur panjang kerja tenang

Liburan akhir tahun kali ini terasa menenangkan. Bos-bos libur panjang sampai tanggal 6 Januari 2008. Jalan raya di kota Medan juga terasa sepi, bisa sampai ke kantor dalam waktu 15 menit. Banyak waktu bersama Umi, Abang dan Dedek.  Abi pun sempat ngantar Abang ke sekolah hari Rabu tanggal 26 Desember.  Keluarga pun terasa lebih mesra.

Masuk kantor tanggal 27 dan 28 aja, untuk kemudian nyambung lagi sampe tanggal 2 Januari 2008. Dalam suasana sepi di kantor, banyak waktu di akhir tahun ini bisa digunakan untuk berkontemplasi.  Berpikir dengan jernih dan tenang mengenai apa yang sudah dilakukan tahun 2007 ini dan apa yang belum optimal agar 2008 bisa lebih baik lagi.

Tadi pagi denger siaran radio SmartFM, 95.9 FM untuk Jakarta, 101.8 FM untuk Medan. Siaran ini hampir tiap pagi rajin saya nyalain di mobil untuk menjadi inspirasi kerja hari itu. Mulai dari jam 7.05 pagi sampe jam 8.  Kalo udah sampe kantor, biasanya saya sambung lewat radio di ponsel. Bahkan sekarang udah bisa dengerin streaming, jadi gak perlu lewat radio ponsel.  Hari senin ada Andrie Wongso, Jumat - hari ini - ada Bapak Jansen Sinamo yang dikenal dengan Bapak Ethos.  Pembicara di stasiun ini umumnya "enlightened" my day. Semangat, semangat, dan membersihkan hati dari "warna-warna rendahan", yang tak selaiknya seorang manusia - yang mempunyai potensi begitu hebat - memeliharanya.

Cerita pagi ini adalah mengenai ethos kerja ke... berapa ya ? Gak usah pedulikan yang ke berapa - mengenai "Bekerja adalah rahmat". Dengan menyadari ini, bahwa Allah swt telah memberikan sedikit dari sifat rahman (pengasih) yang Dia miliki kepada saya dan pembaca sekalian, seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk sombong. Tidak ada alasan untuk takut membelanjakan / memberikan sedikit rizki yang diberikan-Nya kepada orang lain yang membutuhkan.

Karena bekerja adalah rahmat, maka sudah selayaknya kita bersyukur kepada Allah SWT.  Cara bersyukur yang tepat dalam hal ini, tentunya dengan bekerja dengan sungguh-sungguh.

Saya kemudian tertarik mencari tau lebih jauh tentang prinsip / ethos kerja dari Pak Jansen ini. Voila! Dunia Internet pun rahmat, subhanallaah... dengan mudah saya dapatkan semua prinsip itu di websitenya Pak Jansen.

1# Mampu bekerja tulus penuh rasa syukur.
Bagaimana tidak bersyukur, jika di luar sana banyak orang jadi perampok/pencuri bahkan dengan alasan hanya untuk membeli obat-obatan ibundanya yang sakit, atau anaknya yang ingin minum susu

2# Komit bekerja benar penuh tanggungjawab.
Ini adalah wujud rasa syukur kita kepada-Nya yang telah memberikan nikmat dan rahmat berupa pekerjaan kepada kita.

3# Terbiasa bekerja tuntas penuh integritas.
Ini juga, kalo kerja jangan setengah-setengah. Jadi inget Umi yang selalu cerewetin abi kalo abis nyupir (nyuci piring) suka meninggalkan bekas-bekas sabun di sekeliling bak cucian piring. Dibersihin dong biii...! 

4# Suka bekerja keras penuh semangat.
No comment lah, udah pada tau semua.

5# Dapat bekerja serius penuh kecintaan.
Nah kata sebagian orang, love your work but not your company. carilah pekerjaan yang anda sukai karena kalo gak suka dengan pekerjaannya tentunya kita tidak enjoy dalam bekerja. why shouldn't we love the company ? karena pengalaman saya sendiri, company itu taunya bisnis untung aja. nggak terlalu mikirin pegawainya. walau pun tidak sedikit juga company yang apresiasinya terhadap pegawainya bagus dan baik, misalnya penghargaan kerja setelah sekian puluh tahun mengabdi.

6# Sanggup bekerja cerdas penuh kreativitas.
Kadang kita jenuh karena merasa karir mentok. Tidak seharusnya terjadi jika kita mau meningkatkan skill. Baca buku lagi. Belajar lagi, dan terus... dan terus. Nah ada situs yang bagus tentang belajar yakni pembelajar dot com.

7# Senantiasa bekerja unggul penuh ketekunan.
No comment juga.

8# Selalu bekerja paripurna penuh kerendahan hati.
Nah, hati-hati kalau sudah mencapai posisi tertentu. Hati-hati juga dengan gaya kepemimpinan atasan Anda. Karena lingkungan mempengaruhi karakter. Nah dalam kontemplasi kali ini, coba anda mundur ke belakang beberapa tahun. seperti apakah saya dulu ? seperti apakah saya sekarang ? satu saja yang diintrospeksi, saya rendah hati atau sombong. itu aja...titik.

Siaran selalu ditutup dengan slogan "Prima, Optima, Ultima" -> simple... tapi mendalam.
Kedelapan ethos tersebut terangkum dalam 3 suku kata tersebut. Subhanallaah.... ini adalah lagi-lagi rahmat Allah swt, walau pun bukan dari seorang wali.

Comments

  1. bukunya ada om...
    saya sedang membacanya

    ReplyDelete
  2. 1. Kerja adalah Rahmat; Aku Bekerja Tulus Penuh Rasa Syukur
    2. Kerja adalah Amanah; Aku Bekerja Benar Penuh Tanggungjawab
    3. Kerja adalah Panggilan; Aku Bekerja Tuntas Penuh Integritas
    4. Kerja adalah Aktualisasi; Aku Bekerja Keras Penuh Semangat
    5. Kerja adalah Ibadah; Aku Bekerja Serius Penuh Kecintaan
    6. Kerja adalah Seni; Aku Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas
    7. Kerja adalah Kehormatan; Aku Bekerja Tekun Penuh Keunggulan
    8. Kerja adalah Pelayanan; Aku Bekerja Paripurna Penuh Kerendahanhati

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Setan tak bisa menembus dinding

Betapa kita, saya dan anda, seringkali salah kaprah tentang setan, dan jin. Film-film turut menanamkan pengertian yang salah. Berapa banyak film yang menggambarkan setan/jin itu bisa menembus dinding, tiba-tiba muncul di ruangan tertentu. Nampaknya hadits berikut menjadi salah satu kabar yang menutup kesalahan pemahaman tersebut. Dari Jabir ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda:“Tutuplah bejana, ikatlah tempat air, tutuplah pintu-pintu dan padamkanlah lampu, sesungguhnya setan itu tidak akan bisa melepaskan ikatan, tidak bisa membuka pintu dan tidak bisa membuka bejana. Seandainya salah seorang diantara kalian tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk menutupnya kecuali hanya meletakkan lidi di atas bejana itu, maka lakukanlah yang demikian itu dengan menyebut nama Allah,karena sesungguhnya tikus itu bisa menyebabkan terbakarnya rumah.” (HR. Muslim)

Pulang Tenggo [mirip tengbur]

Kalo Mbak Sya2 punya pengalaman tengbur, saya ada pengalaman Tenggo. Tenggo ini bukannya produk makanan, tenggo = begitu teng jam 16.30 langsung GO ! Hehehe... Suatu hari kami bertiga (IT Department cuman bertiga) dipanggil, gak tanggung langsung ke Direksi, karena emang jalurnya langsung di bawah Direksi. Diceramahin macem-macem, yang masih muda lah, yang masih terang lah di luar sana (emang kudu nunggu gelap baru pulang Pak ?) Saya ada setujunya tuh sama Mbak Sya2, bahwa hak karyawan untuk bisa pulang pada waktunya. Namun setelah ditegur sama Bos, saya juga agak molorin lah sedikit, dari yang mestinya 16.30 (kami masuk jam 7.30, sabtu libur) jadi jam 17.15 atau 17.30, tergantung Bosnya udah pulang apa belum.  Tapi emang kadang-kadang si Bos ini gila kerja. Pernah dia pulang jam 9 malem, walaah... kalo di Medan saya belum banyak melihat fenomena ngelembur sampe jam segitu. Kalo di Jakarta mah, biasa kali ya... sambil nunggu macet. Tapi, ada tapinya deh... ngaku gak kalo di kantor ...

The 7 Habits of Highly Effective People

Supaya gak ilang ditelan zaman, ada baiknya disimpen sebagai harta yang cukup berharga. Summary of Stephen R. Covey's The 7 Habits of Highly Effective People In his #1 bestseller, Stephen R. Covey presented a framework for personal effectiveness. The following is a summary of the first part of his book, concluding with a list of the seven habits. Inside-Out: The Change Starts from Within While working on his doctorate in the 1970's, Stephen R. Covey reviewed 200 years of literature on success. He noticed that since the 1920's, success writings have focused on solutions to specific problems. In some cases such tactical advice may have been effective, but only for immediate issues and not for the long-term, underlying ones. The success literature of the last half of the 20th century largely attributed success to personality traits, skills, techniques, maintaining a positive attitude, etc. This philosophy can be referred to as the Personality Ethic . However, during the 150 y...