Saya punya temen yahoo! messenger yang selalu setia ngirimin hikmah, umumnya hadits walaupun beberapa perkataan ulama dan orang shalih lainnya pun terkadang singgah. Sumbernya insya Allah shahih. Itu semua yang saya sering posting ke multiply ini... plus perenungan pribadi.
Ada hadits berikut yang membuat hati ini risau. Di tengah semangatnya bekerja, bahkan ada semangat untuk berwirausaha, tiba-tiba muncul 2 hadits berikut :
Dari Ibnu Abbas dan Imran bin Hushain ra., dari nabi SAW, beliau bersabda: “Aku menengok ke taman surga dan aku melihat, penghuninya kebanyakan orang-orang miskin. Kemudian aku menengok ke neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah perempuan. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ka’ab bin ’Iyadh ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Sesungguhnya masing-masing umat itu mempunyai cobaan dan cobaan umatku adalah harta kekayaan.” (HR. Tirmidzi)
Hadits pertama, sudah pernah saya mendengar bunyi-bunyi yang lain namun bernada serupa. Bahwa orang miskin cepat hisabnya. Ya tentu saja, lha wong gak ada harta yang mau dihitung dari mana dia dapat dan kemana dia belanjakan.
Namun saya juga tau bahwa 9 dari 10 shahabat yang dijamin masuk surga adalah pengusaha sukses. Siapa yang tak pernah mendengar perlombaan Abu Bakr dan Umar radiyallahu anhuma dalam memberikan support berupa harta untuk mempertahankan agama Muhammad saw ? Umar ra memberikan setengah hartanya, tapi kalah dengan Abu Bakr ra yang hanya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk anak dan keluarganya.
Siapa juga yang tak mengenal atau mendengar cerita hartawan, dermawan, sekaligus khalifah ketiga Utsman bin Affan ra.
Berarti hadits pertama harus disimak baik-baik pada kata "penghuninya kebanyakan orang-orang miskin". Bukan berarti tidak boleh menjadi kaya. Mengenai Rasulullah saw memilih kehidupan yang sederhana adalah pilihan beliau, bukan berupa kewajiban bagi umatnya untuk mengikutinya dalam hal itu. Coba bayangkan kalau semua orang Islam memilih miskin ? Menurut saya, tak mungkin... agama ini bisa maju dan berkembang. Walaupun cara mengembangkan Islam tak melulu dengan biaya besar.
Hadits pertama sangat erat dengan hadits kedua, yakni mengenai cobaan harta. Sangat setuju jika harta bisa membuat orang tergelincir. Cobaan menjadi orang miskin banyak yang sukses, namun cobaan menjadi orang kaya banyak orang yang terpeleset. Yuk ingat lagi cerita ... ah gak usah yang jaman dulu deh. Punya gak cerita jaman sekarang yang setelah jadi kaya raya malah seperti orang yang tak pernah puas dengan hartanya. Bahkan bergelar haji. Hobinya memperluas lahan, tak peduli walau caranya menzolimi orang kecil. Na'udzubillaah....
Jadi sesuai dengan pertanyaan di judul, kalo saya milih kombinasi yang membahagiakan dunia akhirat
Allahu a'lam
Ada hadits berikut yang membuat hati ini risau. Di tengah semangatnya bekerja, bahkan ada semangat untuk berwirausaha, tiba-tiba muncul 2 hadits berikut :
Dari Ibnu Abbas dan Imran bin Hushain ra., dari nabi SAW, beliau bersabda: “Aku menengok ke taman surga dan aku melihat, penghuninya kebanyakan orang-orang miskin. Kemudian aku menengok ke neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah perempuan. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ka’ab bin ’Iyadh ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Sesungguhnya masing-masing umat itu mempunyai cobaan dan cobaan umatku adalah harta kekayaan.” (HR. Tirmidzi)
Hadits pertama, sudah pernah saya mendengar bunyi-bunyi yang lain namun bernada serupa. Bahwa orang miskin cepat hisabnya. Ya tentu saja, lha wong gak ada harta yang mau dihitung dari mana dia dapat dan kemana dia belanjakan.
Namun saya juga tau bahwa 9 dari 10 shahabat yang dijamin masuk surga adalah pengusaha sukses. Siapa yang tak pernah mendengar perlombaan Abu Bakr dan Umar radiyallahu anhuma dalam memberikan support berupa harta untuk mempertahankan agama Muhammad saw ? Umar ra memberikan setengah hartanya, tapi kalah dengan Abu Bakr ra yang hanya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk anak dan keluarganya.
Siapa juga yang tak mengenal atau mendengar cerita hartawan, dermawan, sekaligus khalifah ketiga Utsman bin Affan ra.
Berarti hadits pertama harus disimak baik-baik pada kata "penghuninya kebanyakan orang-orang miskin". Bukan berarti tidak boleh menjadi kaya. Mengenai Rasulullah saw memilih kehidupan yang sederhana adalah pilihan beliau, bukan berupa kewajiban bagi umatnya untuk mengikutinya dalam hal itu. Coba bayangkan kalau semua orang Islam memilih miskin ? Menurut saya, tak mungkin... agama ini bisa maju dan berkembang. Walaupun cara mengembangkan Islam tak melulu dengan biaya besar.
Hadits pertama sangat erat dengan hadits kedua, yakni mengenai cobaan harta. Sangat setuju jika harta bisa membuat orang tergelincir. Cobaan menjadi orang miskin banyak yang sukses, namun cobaan menjadi orang kaya banyak orang yang terpeleset. Yuk ingat lagi cerita ... ah gak usah yang jaman dulu deh. Punya gak cerita jaman sekarang yang setelah jadi kaya raya malah seperti orang yang tak pernah puas dengan hartanya. Bahkan bergelar haji. Hobinya memperluas lahan, tak peduli walau caranya menzolimi orang kecil. Na'udzubillaah....
Jadi sesuai dengan pertanyaan di judul, kalo saya milih kombinasi yang membahagiakan dunia akhirat

Allahu a'lam
soal kaya dan miskin kali udah agak jelas kali ya kang, coba kalo pernyataan perempuan banyak dineraka kira2 kenapa ya kang? apa salah satunya adalah karena fitnah eman si sapi perempuan?
ReplyDeletemungkin juga bang ...
ReplyDeletekl saya miskin masuk surga!!tapi nama nya mau masuk surga yah harus berjuang!!
ReplyDeletebang..saya sih setuju kudu kaya biar bisa sedekah lagi..trus bantuin yg miskin. yg kaya bisa masuk surga yg miskin juga karena sabar miskin, yg kaya juga kudu sabar kaya.
ReplyDeletehehehe..., enakan kaya..., bisa bantuin banyak orang, trus masuk surga..., amiin..
ReplyDelete:)
pertanyaannya kurang lengkap. kalau ada pilihan kaya tapi masuk surga. itu saya pilih.
ReplyDeletekalau kaya, banyak ibadah yang bisa kita lakukan tetapi tak dapat dilakukan simiskin. contohnya membangun mesjid, sedekah, membuka lapangan kerja buat orang miskin, membangun sumur umum, dan masih banyak lagi.