Skip to main content

Haruskah anakku menjadi hafidz ?

Hafidz -- atau hafidzah untuk perempuan  -- dimaknai bebas oleh saya adalah seorang penghafal quran. Jika berangkat dari terjemah dasarnya, hafidz adalah orang yang menjaga -- maksudnya adalah menjaga al quran dengan jalan menghafalnya.

Cita-cita ini bukanlah hal remeh. Tapi terus terang, dalam hati... saya sebagai orang tua bisa menakar diri, membandingkan dengan para masyaikh terdahulu. Apa ? Membandingkan ? wah menyebut kata "membandingkan" itu sepertinya suaangat tidak tepat. Menurut saya kata tersebut cocok jika object yang dibandingkan memiliki perbedaan yang tipis, ada lebih dan kurang diantara dua atau lebih object pilihan.

Bagaimana cerita seorang Imam Syafi'i dibesarkan. Atau silahkan search para huffadz di internet. Semua ceritanya, pasti tak lepas dari masa kecilnya, bagaimana ia dibesarkan. Bagaimana kedudukan orang tuanya dalam hal bermesraan dengan Robbnya.

Pesimis deh kalo 30 juz. Tapi kalo <5 juz, hmm saya rasa masih bisa lah.

Fatih diliburkan Umi karena batuk. Selain kasihan dengan Fatih, kasihan juga dengan teman-temannya di sekolah bisa ketularan. Hari kedua sudah masuk. Umi dapat info kalau esok harinya akan ada lomba menghafal surat pendek. Jadi begitu pulang sekolah, mulai dari siang sampai malam Umi sibuk membantu Fatih ngafal.

Abi taunya ketika pulang ke rumah, sekitar jam 8.15 malam (abis olahraga badminton bareng temen kantor). Mereka berdua sibuk di dalam kamar belajar menghafal surat yang dilombakan. Abi makan, nemani dedek nonton Barney, mandi, shalat Isya... masih belum keluar juga. Sampai akhirnya kedengaran tangisan Fatih. Duh.. Abi kurang setuju deh kalo sampe nangis-nangis. Tapi kami sepakat tak boleh berdebat di depan anak-anak. Hal itu akan menurunkan wibawa kami, lagipula anak akan kebingungan mana yang benar.

Walau pun begitu, Abi ingat waktu masih kecil... pelajaran yang diingat itu akan membekas ketika ada peristiwa yang di luar kewajaran. Entah itu pake acara nangis, atau misalnya dilempar penghapus, dicubit pak guru, kabur ketika guru ngaji datang ke rumah hehehe.... (kejadian itu gak semuanya cerita pribadi, dikumpulin dari cerita eyang putri, eyang kakung, kakek nenek, teman de el el).

OK, jadi abi tahan diri utk tidak ikut campur... hanya ngecek ke dalam kamar "what's going on ?" sambil ngasih tanda ke umi pake mata.

Usai sudah acara tangis-tangisan. Fatih mau main laptop tapi dilarang sama umi. Bolehnya sabtu-minggu aja. Memang belakangan abi lebih sering bawa pulang tuh laptop. Jadi, kebiasaan Fatih untuk main game melulu adalah kesalahan abi juga.
Ok deh, abi janji untuk tidak membawa pulang kecuali hari libur.

Bobo malamnya, Fatih sampe ngigau membaca penggalan ayat. Umi yang mendengar merasa bersalah sekali, sampai minta abi untuk memindahkan Fatih agar tidur di samping Umi. Umi janji tidak akan "memaksa" anak-anak untuk menjadi apa yang orangtuanya inginkan. (kalimat terakhir gak usah di bahas ya)

Hari berikutnya
Belum selesai nulis blog ini, abi telpon umi, menanyakan bagaimana lombanya.
Wow...ternyata dapat juara I, tapi lomba lari karung
Terus bagaimana lomba hafalan surat pendeknya ? Juara II... beregu hehehe...
Jadi gak begitu kelihatan ketidakfasihan Fatih melafalkan surat pendek.

Yah... awalan yang baik, patut disyukuri, agar alam merespon dengan lebih baik.
Allahu a'lam

Comments

  1. udah cukup hebat kok Fatih, Bi
    berawal dari lomba balap karung
    semoga lain waktu bisa juara 1 menjadi hafidz seperti yang Abi dan Umi inginkan
    "belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu"

    abi dan umi fatih udah menjadi orang tua yang bijak kok ;-)

    ReplyDelete
  2. menjadi penjaga Quran, hafidz n hafidzah tentu penting...cita2 yang tidak boleh padam dan harus terus diikhtiarkan namun yang terpenting adalah menjadi pengamal Quran yang mencintai Quran.
    Salam buat Fatih dari Fathan&Fathiyya *)

    ReplyDelete
  3. perlu disesuaikan dengan perkembangan anak ^_)
    moga sukses programnya

    ReplyDelete
  4. Fathan dan Fathiyya gimana progress tahfidznya bu ummi ?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Setan tak bisa menembus dinding

Betapa kita, saya dan anda, seringkali salah kaprah tentang setan, dan jin. Film-film turut menanamkan pengertian yang salah. Berapa banyak film yang menggambarkan setan/jin itu bisa menembus dinding, tiba-tiba muncul di ruangan tertentu. Nampaknya hadits berikut menjadi salah satu kabar yang menutup kesalahan pemahaman tersebut. Dari Jabir ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda:“Tutuplah bejana, ikatlah tempat air, tutuplah pintu-pintu dan padamkanlah lampu, sesungguhnya setan itu tidak akan bisa melepaskan ikatan, tidak bisa membuka pintu dan tidak bisa membuka bejana. Seandainya salah seorang diantara kalian tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk menutupnya kecuali hanya meletakkan lidi di atas bejana itu, maka lakukanlah yang demikian itu dengan menyebut nama Allah,karena sesungguhnya tikus itu bisa menyebabkan terbakarnya rumah.” (HR. Muslim)

Pulang Tenggo [mirip tengbur]

Kalo Mbak Sya2 punya pengalaman tengbur, saya ada pengalaman Tenggo. Tenggo ini bukannya produk makanan, tenggo = begitu teng jam 16.30 langsung GO ! Hehehe... Suatu hari kami bertiga (IT Department cuman bertiga) dipanggil, gak tanggung langsung ke Direksi, karena emang jalurnya langsung di bawah Direksi. Diceramahin macem-macem, yang masih muda lah, yang masih terang lah di luar sana (emang kudu nunggu gelap baru pulang Pak ?) Saya ada setujunya tuh sama Mbak Sya2, bahwa hak karyawan untuk bisa pulang pada waktunya. Namun setelah ditegur sama Bos, saya juga agak molorin lah sedikit, dari yang mestinya 16.30 (kami masuk jam 7.30, sabtu libur) jadi jam 17.15 atau 17.30, tergantung Bosnya udah pulang apa belum.  Tapi emang kadang-kadang si Bos ini gila kerja. Pernah dia pulang jam 9 malem, walaah... kalo di Medan saya belum banyak melihat fenomena ngelembur sampe jam segitu. Kalo di Jakarta mah, biasa kali ya... sambil nunggu macet. Tapi, ada tapinya deh... ngaku gak kalo di kantor ...

The 7 Habits of Highly Effective People

Supaya gak ilang ditelan zaman, ada baiknya disimpen sebagai harta yang cukup berharga. Summary of Stephen R. Covey's The 7 Habits of Highly Effective People In his #1 bestseller, Stephen R. Covey presented a framework for personal effectiveness. The following is a summary of the first part of his book, concluding with a list of the seven habits. Inside-Out: The Change Starts from Within While working on his doctorate in the 1970's, Stephen R. Covey reviewed 200 years of literature on success. He noticed that since the 1920's, success writings have focused on solutions to specific problems. In some cases such tactical advice may have been effective, but only for immediate issues and not for the long-term, underlying ones. The success literature of the last half of the 20th century largely attributed success to personality traits, skills, techniques, maintaining a positive attitude, etc. This philosophy can be referred to as the Personality Ethic . However, during the 150 y...