Skip to main content

Arti Menang Kalah dalam Jihad Gaza

dari eRaMusLim
Selasa, 20/01/2009 12:00 WIB

Dua hari sebelum pelantikan Obama, Israel melakukan gencatan senjata sepihak (unilateral), Ahad lalu. Lebih 1.500  muslim Gaza syahid, ribuan lainnya luka-luka, sebagian besar anak-anak dan wanita, dan hampir seluruh bangunan dan sarana hidup yang ada di Gaza hancur.

Begitu pun dengan sang agresor, Zionis Israel, yang juga mengalami pukulan hebat dari pejuang Hamas. Menurut Yisrael Katz, anggota Parlemen Partai Likud,  ratusan tentara Israel yang luka  dalam perang. Milyaran dolar biaya perang selama agresi Israel, yang berlangsung tiga pekan itu.

Sejumlah analis akhirnya mengungkapkan pertanyaan sederhana. Siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam perang antara Hamas Israel? Dari segi fisik, para analis mengatakan bahwa mujahidin Hamas di Gaza memang mengalami kehancuran hebat. Mulai dari gedung-gedung, infrastruktur negara, dan ribuan warga yang menjadi korban. Suatu hal yang tidak dialami Israel.

Namun,  dilihat dari segi non-fisik, akibat perang yang berlangsung di Gaza itu, seperti moral, citra, dukungan, dan tumbuhnya kesadaran bersama umat Islam, di Timur dan Barat, mereka  bersatu membantu saudaranya-muslim di Gaza. Sebaliknya, perpecahan dalam tubuh Israel yang saling menyalahkan, jelas-jelas bahwa kemenangan ada pada mujahidin Hamas di Gaza.

Hamas yang awalnya hanya gerakan sosial, berubah menjadi gerakan politik, dan menjadi gerakan jihad (militer) dalam menghadapi Israel. Hamas sebagai entitas yang masih sangat sederhana telah mengubah dunia. Mengubah wajah Israel. Dan, dapat menyatukan umat Islam, serta masyarakat internasional di Timur dan Barat, dan bersepakat bahwa Israel menjadi ancaman keamanan.

Sedemikian naiknya citra Hamas di mata dunia.  Selain mengalirnya bantuan dan dukungan dari pihak masyarakat  muslim internasional, dunia pun akhirnya menyaksikan siapa yang sebenarnya teroris. Karena selama ini, Amerika telah mendoktrin dunia bahwa Hamas adalah salah satu organisasi teroris berbahaya di dunia. Kini, fakta menunjukkan sebaliknya. Seorang ilmuwan Yahudi, Ilan Pappe, mengatakan, malu menjadi seorang Yahudi,  mereka benar-benar mempraktekan ideologi yang rasis.

Ada hal lain yang tidak kalah pentingnya dari naiknya citra Hamas dan perjuangan rakyat Palestina, umumnya. Bahwa, sudah saatnya umat Islam dan Gerakan Islam di dunia termasuk di Indonesia bercermin dengan apa yang telah dibuktikan oleh Hamas dan Palestina.

Cerminan tersebut antara lain, adanya konsistensi untuk selalu memperjuangkan Islam walaupun harus berhadapan dengan kekuatan negara besar seperti Amerika, Inggris, Israel, Uni Eropa, dan sebagian negara Arab, dan lain-lain. Kedua, kesadaran bahwa perjuangan Islam bukan hanya monopoli kelompok tertentu dalam gerakan Islam, tapi melibatkan kelompok lain.

Hal itulah yang pernah diucapkan Khalid Misy'al beberapa hari sebelum penyerangan Israel ke Gaza di sebuah Muktamar Internasional di Damaskus: "Bukan cuma Hamas yang berjuang di Palestina. Hamas hanya bagian dari dunia Arab dan dunia Islam yang semuanya melakukan perlawanan terhadap Israel.”

Dan ketiga, adanya keteladanan yang baik dari para pemimpin Hamas yang terus menunjukkan konsistensi dan keikhlasan dalam melawan Israel, serta kokohnya soliditas gerakan.

Comments

Popular posts from this blog

Setan tak bisa menembus dinding

Betapa kita, saya dan anda, seringkali salah kaprah tentang setan, dan jin. Film-film turut menanamkan pengertian yang salah. Berapa banyak film yang menggambarkan setan/jin itu bisa menembus dinding, tiba-tiba muncul di ruangan tertentu. Nampaknya hadits berikut menjadi salah satu kabar yang menutup kesalahan pemahaman tersebut. Dari Jabir ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda:“Tutuplah bejana, ikatlah tempat air, tutuplah pintu-pintu dan padamkanlah lampu, sesungguhnya setan itu tidak akan bisa melepaskan ikatan, tidak bisa membuka pintu dan tidak bisa membuka bejana. Seandainya salah seorang diantara kalian tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk menutupnya kecuali hanya meletakkan lidi di atas bejana itu, maka lakukanlah yang demikian itu dengan menyebut nama Allah,karena sesungguhnya tikus itu bisa menyebabkan terbakarnya rumah.” (HR. Muslim)

Pulang Tenggo [mirip tengbur]

Kalo Mbak Sya2 punya pengalaman tengbur, saya ada pengalaman Tenggo. Tenggo ini bukannya produk makanan, tenggo = begitu teng jam 16.30 langsung GO ! Hehehe... Suatu hari kami bertiga (IT Department cuman bertiga) dipanggil, gak tanggung langsung ke Direksi, karena emang jalurnya langsung di bawah Direksi. Diceramahin macem-macem, yang masih muda lah, yang masih terang lah di luar sana (emang kudu nunggu gelap baru pulang Pak ?) Saya ada setujunya tuh sama Mbak Sya2, bahwa hak karyawan untuk bisa pulang pada waktunya. Namun setelah ditegur sama Bos, saya juga agak molorin lah sedikit, dari yang mestinya 16.30 (kami masuk jam 7.30, sabtu libur) jadi jam 17.15 atau 17.30, tergantung Bosnya udah pulang apa belum.  Tapi emang kadang-kadang si Bos ini gila kerja. Pernah dia pulang jam 9 malem, walaah... kalo di Medan saya belum banyak melihat fenomena ngelembur sampe jam segitu. Kalo di Jakarta mah, biasa kali ya... sambil nunggu macet. Tapi, ada tapinya deh... ngaku gak kalo di kantor ...

The 7 Habits of Highly Effective People

Supaya gak ilang ditelan zaman, ada baiknya disimpen sebagai harta yang cukup berharga. Summary of Stephen R. Covey's The 7 Habits of Highly Effective People In his #1 bestseller, Stephen R. Covey presented a framework for personal effectiveness. The following is a summary of the first part of his book, concluding with a list of the seven habits. Inside-Out: The Change Starts from Within While working on his doctorate in the 1970's, Stephen R. Covey reviewed 200 years of literature on success. He noticed that since the 1920's, success writings have focused on solutions to specific problems. In some cases such tactical advice may have been effective, but only for immediate issues and not for the long-term, underlying ones. The success literature of the last half of the 20th century largely attributed success to personality traits, skills, techniques, maintaining a positive attitude, etc. This philosophy can be referred to as the Personality Ethic . However, during the 150 y...