Alhamdulillah, tahun ini bisa mudik. Gak cuma orang kampung yang boleh pulang kampung, meskipun kami tinggal di Jakarta, tapi ada kampung kok di tengah kota hehehe...
H-9
Pagi itu, entah kenapa Abi rindu sekali ingin pulang ke Jakarta. Dalam hati, tiket pasti mahal. Tapi Abi sekarang punya ilmunya : SEFT dan Ikhlas. Langsung dipraktekkin, dengan harapan semoga Allah swt mudahkan keinginan ini.
Buka web AirA** : 11 juta. Ubek ubek lagi, 7 juta.
Buka web Man**la : tiket MES - CGK-nya yang kehabisan, CGK-MES-nya masih ada.
Buka web L**Air : 5,1 juta. Ubek-ubek lagi dapet 4,6 Wow... alhamdulillah dapet tiket promo. 4 dewasa dan 1 infant, spertinya ini harga terbaik yang diberikan Allah.
Itung-itung celengan semar, bismillah ... booking ! Waktu bayar max 3 jam sejak booking.
Lapor ke menteri keuangan, biasa deh... pasif, negatif, :(
Wajar sih, Aisyah baru 2 bulan jadi benarlah pepatah "Kekhawatiran dan ketakutan hanya terjadi karena ketidaktahuan (kalau tidak boleh menyebut kebodohan)".
Minta izin juga sama Mama di Jakarta. Jawaban utamanya sih sama, Aisyah baru 2 bulan. Berbahaya untuk telinganya karena tekanan udara di pesawat waktu tinggal landas dan landing. Minta doa dari Mama semoga gak jadi masalah.
Baca-baca di internet memang ada 2 pendapat : yang membolehkan asalkan si anak dalam kondisi sehat, tidak ada gangguan sewaktu lahir. Susui sewaktu take off dan landing. Satu pendapat lain yang sebelum 6 bulan tidak dibolehkan untuk terbang apalagi kalau kondisi kesehatan si anak sedang kurang baik.
Telpon Dokter kantor dan Dokter anak. Alhamdulillah tiket jadi dibeli deh.
H-3
Aisyah batuk ketularan abang-abangnya. Batuk pilek. Waduh tantangan lagi deh. Memang orang dewasa saja kalau kena batuk pilek pasti sakit kupingnya waktu di atas pesawat. apalagi anak kecil. Kami datangi ke praktek dokter anak sorenya untuk mendapatkan "pengetahuan" dan bekal obat. Nasihatnya alhamdulillah menenangkan "Asal disusui waktu take off dan landing untuk membantu menyeimbangkan tekanan di telinganya".
Menteri kesehatan sebenarnya berat hati, meskipun sudah diberikan nasihat oleh ahlinya. Bermodalkan niat yang tulus untuk silaturahim dengan sanak keluarga, dan support dari Presiden, akhirnya sang menteri bisa ditenangkan.
H-2
Berangkat ke Jakarta. Bismillah !
Perjalanan lancar selama di darat dan di udara. Aisyah pun tenang, hanya terkadang kepalanya geleng-geleng, tanda ada "sesuatu" yang membuatnya tidak nyaman. Abang-abangnya seprti biasa deh... riang, bercanda, ribut, tapi dalam hati Abi senang sekali gak ada kendala. Alhamdulillah.
Satu row dalam baris kami, Abi kenalan sama Branch Manager Abacus Medan - Feby namanya, tapi kaum Adam loh walau pun namanya agak mirip Perempuan.
Sampai di Bandara, ketika kami berjalan menuju baggage claim, Mas Feby ngasih tau kalau yang di depan kira-kira 5 meter ada gerombolan 4 orang itu adalah polisi preman yang sedang menggelandang seorang Teroris ! Haa ??
Kalau diperhatikan memang 1 orang dipakaikan topi menutupi sebagian wajahnya, pakai jaket terbalik namun tangan orang itu tetap di depan. Abi pikir pasti diborgol tuh. 3 orang lagi polisi2 preman berbadan besar, gayanya ada yagn botak, ada yang rambutnya keriting panjang, yah... khas preman deh.
Bagasi beres, kami keluar. Dijemput eyang dan om adi yang nemani eyang bawa mobil.
Alhamdulillah, sampai di rumah disambut eyang mama dengan gembira 

Bisa lihat Aisyah yang buntel hehehe...
Hari itu sahur di Medan, buka puasa lebih cepat di Jakarta hehehe...
Libur Lebaran memang (seingat Abi) terakhir tahun 2005. Sejak 2006 gak pulang, 2007 pulang tapi pas nikah Adit, 2008 nikah Ivan (adiknya umi), 2009 pulang ketika nikah Niken. Jadi baru 2010 pulang pas Lebaran. 2011 rencananya April pulang waktu acara nikah Taufik (adiknya umi).
Alhamdulillah sepupu2 yang waktu nikah tak sempat kami kunjungi, ketemu di momen lebaran. Jadi melihat langsung pasangan2 mereka.
Jalanan di kota Jakarta juga alhamdulillah lengang karena lebaran, jadi acara silaturahim pun tak ada halangan berarti. Sungguh kami beruntung bisa mudik tahun ini.
Kata om Mario Teguh
======================================
Berapa persen-kah peran keberuntungan
bagi kebaikan hidup kita?
100% !!!
Tidak ada yang lebih penting daripada keberuntungan.
Itu sebabnya kita beriman, supaya kita beruntung.
Kita belajar, bekerja keras, berlaku jujur dan santun,
menghormati dan mengasihi keluarga dan sesama,
mengasihi binatang dan memelihara alam;
itu semua kita lakukan dengan setia –
karena kita ingin menjadi jiwa yang beruntung.
Amien
========================================
Apa pun yang terjadi, kami yakin adalah tanda-tanda keberuntungan... Alhamdulillah 

Comments
Post a Comment