Skip to main content

Emang kenapa kalo gak dibaca, dikomentari, gak nambah kontak ?


Membaca tulisan Jonru dan  Koko  juga reply-reply di bawahnya, saya agak-agak kasihan dengan  yang mereply kenapa ? Karena tidak sedikit yang kecewa karena tulisannya tidak mendapat feedback oleh baik itu tokoh terkenal macem Mbak Helvy, dan Jonru sendiri  (mas Jonru tokoh juga gak ya ?) padahal mereka sudah diinvite untuk menjadi kontak.

Sedikit harapan mereka, tulisan mereka dibaca, ada email masuk yang menerangkan "hei tulisan kamu tentang xyz direply oleh  someone".  Atau sekedar dikunjungi saja juga sudah senang.

Ada "sakaw" model baru rupanya. Tidak hanya narkoba yang bikin sakaw, tapi empi pun bisa bikin sakaw.

Pesan saya kepada para sakawan dan sakawati (hihihi...):
- berhentilah mengkonsumsi empi.
- Empi itu berbahaya.
- generasi muda yang berhasil tidak suka pakai empi.
- empi menghancurkan masa depan.

Kalau pesan-pesan tersebut gak bisa diterima ya terserah kalian. Input, proses, output. Apa yang kita konsumsi, itulah yang dikeluarkan. Makan bawang, keringet bau. Makan jengkol petai, mulut bau, air seni bau (kenapa sih dinamai air seni, padahal gak nyeni sama sekali). Makan empi, ya ketagihan empi.

Kecuali......

Empi digunakan untuk kemaslahatan. Narkoba juga dibutuhkan untuk tindakan medis, dalam dosis dan takaran tertentu yang diketahui oleh dokter. Empi juga bisa kita gunakan untuk tindakan medis. Coba lihat tulisan saya disini, mereka membunuh "penyakit" mereka dengan empi (dan saya berdoa mudah-mudahan mereka bukan sakawan sakawati) dengan takaran yang pas. Yang saya tahu mereka adalah orang-orang produktif (jangan GR woi), menjadikan empi bukan kerjaan utama, karena mereka berbuat atas niat lillahi ta'ala (betul kan woi ? - ini gaya tulisan abg medan hihihi... wai woi wai woi)

Jadi sekali lagi... jangan kuatir gak punya temen, kontak, gak direply. Seperti buku Safir Senduk, siapa bilang jadi karyawan gak bisa kaya ?  -nyambung gak sih?-

Comments

  1. wah.. tulisan yang bagus banget mas
    sebenarnya, tujuan utama saya menulis artikel tersebut adalah untuk "memberitahu" teman-teman tentang salah satu kiat agar tulisan kita banyak dibaca orang (kalau banyak dibaca, insya Allah tujuan dakwahnya juga semakin efektif, kan?)

    tapi ternyata, sebagian besar reply yang masuk justru berhubungan dengan masalah sakaw2 tersebut
    hehehehe...
    yang seperti ini memang sering terjadi
    melenceng dari tujuan semula :(

    ReplyDelete
  2. Kl saya pribadi seh, ga peduli tulisan atau postingan saya dibaca dan direply. Yg penting, saya bisa ngelancarin hobby. Ngempi adalah untuk kebahagian saya menambah teman. Toh, temen itu sendiri yg menentukan apakah dia mau memperpanjang tali silaturahim atau tidak. Pokonya mah, damai hati ama pikiran deh. Ga perlu ngempi dibawa serius, masuk ke dalem hati :)

    ReplyDelete
  3. yang penting, ketika nulis kita ikhlas. mau direply kek, mau enggak kek itu urusan belakangan. Yang penting ridho Allah kan?
    kalau saya perhatikan blog saya, biasanya yang direply banyak itu yg judulnya HEBOH meskipun isinya sih bisa2 aja malah kadang norak.

    nggak direply juga blm tentu krn tulisan kita nggak bagus, mungkin karena
    - judulnya kurang "menantang"
    - isinya bagus, pembacanya manggut-manggut, giliran mau reply bingung deh. Apa ya yg perlu dikomentari?
    - mungkin memang kurang menarik :) he...he....
    so jangan putus asa
    maju terus bersama MP

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Setan tak bisa menembus dinding

Betapa kita, saya dan anda, seringkali salah kaprah tentang setan, dan jin. Film-film turut menanamkan pengertian yang salah. Berapa banyak film yang menggambarkan setan/jin itu bisa menembus dinding, tiba-tiba muncul di ruangan tertentu. Nampaknya hadits berikut menjadi salah satu kabar yang menutup kesalahan pemahaman tersebut. Dari Jabir ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda:“Tutuplah bejana, ikatlah tempat air, tutuplah pintu-pintu dan padamkanlah lampu, sesungguhnya setan itu tidak akan bisa melepaskan ikatan, tidak bisa membuka pintu dan tidak bisa membuka bejana. Seandainya salah seorang diantara kalian tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk menutupnya kecuali hanya meletakkan lidi di atas bejana itu, maka lakukanlah yang demikian itu dengan menyebut nama Allah,karena sesungguhnya tikus itu bisa menyebabkan terbakarnya rumah.” (HR. Muslim)

Pulang Tenggo [mirip tengbur]

Kalo Mbak Sya2 punya pengalaman tengbur, saya ada pengalaman Tenggo. Tenggo ini bukannya produk makanan, tenggo = begitu teng jam 16.30 langsung GO ! Hehehe... Suatu hari kami bertiga (IT Department cuman bertiga) dipanggil, gak tanggung langsung ke Direksi, karena emang jalurnya langsung di bawah Direksi. Diceramahin macem-macem, yang masih muda lah, yang masih terang lah di luar sana (emang kudu nunggu gelap baru pulang Pak ?) Saya ada setujunya tuh sama Mbak Sya2, bahwa hak karyawan untuk bisa pulang pada waktunya. Namun setelah ditegur sama Bos, saya juga agak molorin lah sedikit, dari yang mestinya 16.30 (kami masuk jam 7.30, sabtu libur) jadi jam 17.15 atau 17.30, tergantung Bosnya udah pulang apa belum.  Tapi emang kadang-kadang si Bos ini gila kerja. Pernah dia pulang jam 9 malem, walaah... kalo di Medan saya belum banyak melihat fenomena ngelembur sampe jam segitu. Kalo di Jakarta mah, biasa kali ya... sambil nunggu macet. Tapi, ada tapinya deh... ngaku gak kalo di kantor ...

The 7 Habits of Highly Effective People

Supaya gak ilang ditelan zaman, ada baiknya disimpen sebagai harta yang cukup berharga. Summary of Stephen R. Covey's The 7 Habits of Highly Effective People In his #1 bestseller, Stephen R. Covey presented a framework for personal effectiveness. The following is a summary of the first part of his book, concluding with a list of the seven habits. Inside-Out: The Change Starts from Within While working on his doctorate in the 1970's, Stephen R. Covey reviewed 200 years of literature on success. He noticed that since the 1920's, success writings have focused on solutions to specific problems. In some cases such tactical advice may have been effective, but only for immediate issues and not for the long-term, underlying ones. The success literature of the last half of the 20th century largely attributed success to personality traits, skills, techniques, maintaining a positive attitude, etc. This philosophy can be referred to as the Personality Ethic . However, during the 150 y...