Skip to main content

Hati-hati mengkonsumsi obat penurun demam

Para Ibu, Cermatlah Memilih Obat Penurun Demam Dengue

JAKARTA, KCM - Masih banyak orangtua yang menganggap demam sebagai hal
yang lumrah, begitupun dengan upaya penanganannya. Terkait dengan demam
berdarah dengue (DBD) yang kini masih mengancam, para orangtua
semestinya mengetahui tidak semua demam pada DBD bisa diatasi dengan
semua jenis obat penurun demam.
Menurut dokter Hendrawan Nadesul, pada kasus DBD sebaiknya hindari
memilih obat anti demam golongan asam salisilat (acetylsalicylate) dan
ibuprofen. Kendati obat golongan ini mampu meredakan demam lebih kuat
namun efek sampingnya malah memperburuk penyakit DBD. "Efek buruk obat
golongan ini berpotensi menimbulkan perdarahan dan sindroma Reye. Itu
berarti memperburuk penyakit DBD," katanya.
Pada kasus dengue, sebaiknya ditangani dengan obat penurun demam yang
aman. "Obat yang aman untuk menurunkan demam dengue adalah parasetamol
yang diikuti dengan asupan cairan yang cukup seperti oralit, jus buah,
susu, dan sebagainya," papar dr.Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), M.Trop
Paed, dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI.
Ditambahkan oleh Hindra, demam adalah suatu tanda adanya infeksi di
dalam tubuh. "Demam diperlukan tubuh untuk menetralisir kuman atau
virus," katanya. Pemberian obat penurun demam pun menurut Hindra hanya
diperlukan pada fase demam yakni hari kedua dan ketiga dalam perjalanan
penyakit DBD.
"Jika suhu tubuh anak sudah di atas 38 derajat, berikan segera obat
penurun demam golongan parasetamol dengan dosis 10 mg selang empat jam,"
jelas Hindra. Pada anak, suhu tubuh normal berkisar antara 36 - 37,5
derajat Celcius. "Jika suhu tubuhnya mencapai 39 derajat, segera kompres
dengan air hangat," imbuhnya.
Berdasarkan survei yang dilakukan AC Nielsen di tahun 2006, terungkap 78
persen konsumsi obat penurun demam anak di wilayah perkotaan di
Indonesia adalah produk yang mengandung asam salisilat, sedangkan yang
mengonsumsi paracetamol 19 persen dan ibuprofen 2 persen. Sebenarnya
konsumsi obat penurun demam golongan asal salisilat dan ibuprofen aman,
namun tidak dianjurkan pada anak dengan demam dengue.
Menurut standar organisasi kesehatan dunia (WHO), obat anti demam dengue
yang aman adalah paracetamol. "Ibuprofen tidak dianjurkan karena dapat
menurunkan trombosit dan menyebabkan perdarahan organ dalam. Sedangkan
asam salisilat diduga akan menimbulkan sindroma Reye (gangguan fungsi
hati) dan merangsang lambung," jelas Hindra.
Saat ini obat antidemam (antypyreticum) memang dijual bebas, para
orangtua pun cenderung memilih obat secara acak berdasarkan khasiatnya
bukan segi keamanannya. Menurut data AC Nielsen, 88 persen para ibu
memang membaca label namun yang lebih diperhatikan adalah dosis dan
tanggal kadaluarsa, bukan golongan obatnya. 

Comments

Popular posts from this blog

Setan tak bisa menembus dinding

Betapa kita, saya dan anda, seringkali salah kaprah tentang setan, dan jin. Film-film turut menanamkan pengertian yang salah. Berapa banyak film yang menggambarkan setan/jin itu bisa menembus dinding, tiba-tiba muncul di ruangan tertentu. Nampaknya hadits berikut menjadi salah satu kabar yang menutup kesalahan pemahaman tersebut. Dari Jabir ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda:“Tutuplah bejana, ikatlah tempat air, tutuplah pintu-pintu dan padamkanlah lampu, sesungguhnya setan itu tidak akan bisa melepaskan ikatan, tidak bisa membuka pintu dan tidak bisa membuka bejana. Seandainya salah seorang diantara kalian tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk menutupnya kecuali hanya meletakkan lidi di atas bejana itu, maka lakukanlah yang demikian itu dengan menyebut nama Allah,karena sesungguhnya tikus itu bisa menyebabkan terbakarnya rumah.” (HR. Muslim)

Pulang Tenggo [mirip tengbur]

Kalo Mbak Sya2 punya pengalaman tengbur, saya ada pengalaman Tenggo. Tenggo ini bukannya produk makanan, tenggo = begitu teng jam 16.30 langsung GO ! Hehehe... Suatu hari kami bertiga (IT Department cuman bertiga) dipanggil, gak tanggung langsung ke Direksi, karena emang jalurnya langsung di bawah Direksi. Diceramahin macem-macem, yang masih muda lah, yang masih terang lah di luar sana (emang kudu nunggu gelap baru pulang Pak ?) Saya ada setujunya tuh sama Mbak Sya2, bahwa hak karyawan untuk bisa pulang pada waktunya. Namun setelah ditegur sama Bos, saya juga agak molorin lah sedikit, dari yang mestinya 16.30 (kami masuk jam 7.30, sabtu libur) jadi jam 17.15 atau 17.30, tergantung Bosnya udah pulang apa belum.  Tapi emang kadang-kadang si Bos ini gila kerja. Pernah dia pulang jam 9 malem, walaah... kalo di Medan saya belum banyak melihat fenomena ngelembur sampe jam segitu. Kalo di Jakarta mah, biasa kali ya... sambil nunggu macet. Tapi, ada tapinya deh... ngaku gak kalo di kantor ...

The 7 Habits of Highly Effective People

Supaya gak ilang ditelan zaman, ada baiknya disimpen sebagai harta yang cukup berharga. Summary of Stephen R. Covey's The 7 Habits of Highly Effective People In his #1 bestseller, Stephen R. Covey presented a framework for personal effectiveness. The following is a summary of the first part of his book, concluding with a list of the seven habits. Inside-Out: The Change Starts from Within While working on his doctorate in the 1970's, Stephen R. Covey reviewed 200 years of literature on success. He noticed that since the 1920's, success writings have focused on solutions to specific problems. In some cases such tactical advice may have been effective, but only for immediate issues and not for the long-term, underlying ones. The success literature of the last half of the 20th century largely attributed success to personality traits, skills, techniques, maintaining a positive attitude, etc. This philosophy can be referred to as the Personality Ethic . However, during the 150 y...