Skip to main content

Membumikan niat Lillahi Ta'ala

Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

    Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mndapatkan sesuai apa yang diniatkan, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan. (HR. Bukhori Muslim)


Pagi ini, ketika sedang mengelap mobil, terbetik dalam pikiran "bagaimana agar mengelap mobil pun menjadi amal ibadah ?"

Adalah sia-sia pekerjaan yang dilakukan jika tidak diniatkan untuk ibadah. Betul begitu kan ? Itu yang sama-sama kita pernah dengar dari Guru ngaji, ustadz di masjid, pengajian kantor, sampai pesan orang tua kita ketika kita masih kecil, dan hingga saat ini.

Saya sendiri pernah bertanya-tanya, "bagaimana sih niat yang dimaksud lillahi ta'ala ? kalau makan minum kan untuk badan, perut lapar. kalau tidur kan untuk istirahat setelah seharian beraktivitas. kalau bekerja kan untuk mencari uang supaya bisa bertahan hidup. lantas bagaimana *membumikan* lillahi ta'ala tersebut ?"
bgitu kira-kira kegundahan hati saya beberapa tahun lalu ketika remaja, waktu masih kritis terhadap sesuatu (haah, emang sekarang nggak ?)

Kemudian saya mendapatkan penjelasan, entah dari mana saya sendiri sudah lupa. Benar bahwasannya makan dan minum untuk memenuhi kebutuhan perut. Betul juga istirahat diperlukan tubuh, dan mencari nafkah untuk menghidupi pribadi, dan keluarga.  Hanya perlu sedikit saja pemolesan, cling... bening deh.

Saya, kamu, ente, ane, antum, koe semua diberi amanah oleh Allah swt. Amanah apa ? Allah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menopang jasad yang ganteng ini. uhuk..uhuk... (duh jadi batuk). Adalah keniscayaan bagi orang yang amanah untuk menjaga amanahnya tersebut, betul ? Memberinya makan, minum dan istirahat adalah salah satu bentuk penjagaan amanah tersebut.

Sebagaimana dengan mencari nafkah, jelas... ianya perintah Allah swt dan Rasul-Nya. Ingat kan cerita salah seorang sahabat yang diberi Rasul saw sebilah kapak ? (bukan kapak merah brur...) Jadi mencari nafkah selain semata-mata memenuhi perintah Allah swt dan Rasul-Nya juga dalam rangka amanah menjaga kelangsungan hidup keluarga, pribadi, masyarakat pada umumnya. Masyarakat ? Bagaimana kok jadi meluas ?  Yah... sebenernya sangat bisa diperluas, atau kalau mau dipersempit juga silahkan, hidup adalah pilihan, betul ?

Laah... terus gimana tadi tentang nyuci mobil ?
Sammaa... kendaraan kan juga amanah, harta yang Allah titipkan agar :
- kalau bawa anak-anak nggak kepanasan, kehujanan
- ketika ada orang yang membutuhkan (tetangga misalnya) bisa kita kontribusikan
- belanja bulanan jadi gak repot dan membahayakan pengendaranya karena banyaknya bawaan
dan banyak alasan lain.  Jadi.... bismillah... cuci motor, cuci mobil.. pun bisa jadi sarana ibadah. Allahu a'lam.

pada setuju ? komen plis...



Comments

  1. Assalamualaikum Wr,Wb.
    Sependapat dech...hehe niatnya juga kan ngibadah...hidup ini menurutku sich hanya untuk ngibadah ..dan
    apapun yang kita kerjakan kita jalani dgn perasaan ikhlas pasti semua jadi lancar,seberat apapun beban yg kita pikul
    pasti jadi ringan karena niat kita yang utama tadi...ok selamat beribadah Mas Andri!!!
    maaf ya saya langsung nyelonong tanpa permisi dulu..semoga tk keberatan "salam kenal"

    ReplyDelete
  2. alaykumussalaam wrwb
    iya mbak, ini sekedar wacana agar segala aktivitas kita bisa bernilai ibadah. salam kenal juga mbak. sayaa add jadi contact ya.

    ReplyDelete
  3. postingannya udah lama banget, hampir 3 tahun, tapi baru detik ini saya nyasar ke sini... ^^
    btw, saya setuju banget sama tulisan di atas! "lillahi ta'ala" selama ini memang sering diucapkan, tapi kadang kita lupa makna yang sesungguhnya terkandung di dalamnya. diperlukan 'deep thinking' terhadap hal-hal di sekitar kita untuk memahami makna "lillahi ta'ala", termasuk deep thinking saat nyuci motor! hehe...

    ReplyDelete
  4. @ais: terima kasih sudah komentar. mau gak mau, saya jadi membaca ulang tulisan di atas. alhamdulillah, jadi penyegaran.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Setan tak bisa menembus dinding

Betapa kita, saya dan anda, seringkali salah kaprah tentang setan, dan jin. Film-film turut menanamkan pengertian yang salah. Berapa banyak film yang menggambarkan setan/jin itu bisa menembus dinding, tiba-tiba muncul di ruangan tertentu. Nampaknya hadits berikut menjadi salah satu kabar yang menutup kesalahan pemahaman tersebut. Dari Jabir ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda:“Tutuplah bejana, ikatlah tempat air, tutuplah pintu-pintu dan padamkanlah lampu, sesungguhnya setan itu tidak akan bisa melepaskan ikatan, tidak bisa membuka pintu dan tidak bisa membuka bejana. Seandainya salah seorang diantara kalian tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk menutupnya kecuali hanya meletakkan lidi di atas bejana itu, maka lakukanlah yang demikian itu dengan menyebut nama Allah,karena sesungguhnya tikus itu bisa menyebabkan terbakarnya rumah.” (HR. Muslim)

Pulang Tenggo [mirip tengbur]

Kalo Mbak Sya2 punya pengalaman tengbur, saya ada pengalaman Tenggo. Tenggo ini bukannya produk makanan, tenggo = begitu teng jam 16.30 langsung GO ! Hehehe... Suatu hari kami bertiga (IT Department cuman bertiga) dipanggil, gak tanggung langsung ke Direksi, karena emang jalurnya langsung di bawah Direksi. Diceramahin macem-macem, yang masih muda lah, yang masih terang lah di luar sana (emang kudu nunggu gelap baru pulang Pak ?) Saya ada setujunya tuh sama Mbak Sya2, bahwa hak karyawan untuk bisa pulang pada waktunya. Namun setelah ditegur sama Bos, saya juga agak molorin lah sedikit, dari yang mestinya 16.30 (kami masuk jam 7.30, sabtu libur) jadi jam 17.15 atau 17.30, tergantung Bosnya udah pulang apa belum.  Tapi emang kadang-kadang si Bos ini gila kerja. Pernah dia pulang jam 9 malem, walaah... kalo di Medan saya belum banyak melihat fenomena ngelembur sampe jam segitu. Kalo di Jakarta mah, biasa kali ya... sambil nunggu macet. Tapi, ada tapinya deh... ngaku gak kalo di kantor ...

The 7 Habits of Highly Effective People

Supaya gak ilang ditelan zaman, ada baiknya disimpen sebagai harta yang cukup berharga. Summary of Stephen R. Covey's The 7 Habits of Highly Effective People In his #1 bestseller, Stephen R. Covey presented a framework for personal effectiveness. The following is a summary of the first part of his book, concluding with a list of the seven habits. Inside-Out: The Change Starts from Within While working on his doctorate in the 1970's, Stephen R. Covey reviewed 200 years of literature on success. He noticed that since the 1920's, success writings have focused on solutions to specific problems. In some cases such tactical advice may have been effective, but only for immediate issues and not for the long-term, underlying ones. The success literature of the last half of the 20th century largely attributed success to personality traits, skills, techniques, maintaining a positive attitude, etc. This philosophy can be referred to as the Personality Ethic . However, during the 150 y...