Skip to main content

Satu lagi bukti: Pacaran bikin stress dan cepat mati

Kalau kita ketikkan keyword "pacaran dalam islam" di google (pada detik ini, saya pribadi masih menganggap google sebagai mesin pencari terbaik), akan kita temukan banyak artikel. Jadi bukan di sini tempatnya untuk berpanjang-panjang.

Pagi tadi, salah seorang rekan kerja bertandang ke meja saya dengan muka sembab. Saya masih asik ngulik program keuangan. N, seorang wanita muda yang baru saja menikah beberapa bulan lalu. Urusannya dengan saya tentunya berkaitan dengan program keuangan tadi, tapi ceritanya menjadi menarik...sekaligus tragis... ketika sambil menunggu respon dari saya dia cerita dengan rekan kerja lain, ibu E, staff senior ... bahwa teman kompaknya, sebut saja Y, meninggal smalam (smalam bahasa medan = kemarin, sedangkan kemarin bahasa medan = 2 hari yang lalu. Eh iya diselang cerita lain sedikit, ketika saya baru sampai di medan pernah ditanya "kapan datang pak ? smalam ya ?".  Saya jawab "nggak kok, siang kemarin sudah sampai". Yang bertanya pun tertawa, dan menerangkan maksud seperti yang saya tulis di atas.)

Muka sembabnya itu ternyata hasil tangisan smalam di rumah duka. Y meninggal setelah melahirkan anaknya, stress dengan kelakuan suaminya.  Satu hal yang disyukuri anaknya hidup. Nah yang menarik disini adalah pertanyaan ibu E, "Emang dulu gak pacaran ?"

"Yah pacaran lah bu, tapi kan gak tau kalo suaminya dulu bgini. Waktu pacaran mana kelihatan aslinya !"

Suatu kalimat yang saya pernah dengar dari ceramah di dalam masjid dan mushalla, kini saya dengar dari orang kebanyakan... dan itulah realita di masyarakat.  Bahwa pacaran tidak bisa menjamin bahwa sang pacar berkelakuan seperti dirinya yang sebenarnya. Akibatnya baru terasa ketika sudah menikah. Wow... kok kesannya pacaran jelek banget sih? Yah nggak juga sih, banyak kok cerita sukses rumah tangganya.  Terus bagaimana dong ?... silahkan googling


ym! id: nidza99



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Setan tak bisa menembus dinding

Betapa kita, saya dan anda, seringkali salah kaprah tentang setan, dan jin. Film-film turut menanamkan pengertian yang salah. Berapa banyak film yang menggambarkan setan/jin itu bisa menembus dinding, tiba-tiba muncul di ruangan tertentu. Nampaknya hadits berikut menjadi salah satu kabar yang menutup kesalahan pemahaman tersebut. Dari Jabir ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda:“Tutuplah bejana, ikatlah tempat air, tutuplah pintu-pintu dan padamkanlah lampu, sesungguhnya setan itu tidak akan bisa melepaskan ikatan, tidak bisa membuka pintu dan tidak bisa membuka bejana. Seandainya salah seorang diantara kalian tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk menutupnya kecuali hanya meletakkan lidi di atas bejana itu, maka lakukanlah yang demikian itu dengan menyebut nama Allah,karena sesungguhnya tikus itu bisa menyebabkan terbakarnya rumah.” (HR. Muslim)

Pulang Tenggo [mirip tengbur]

Kalo Mbak Sya2 punya pengalaman tengbur, saya ada pengalaman Tenggo. Tenggo ini bukannya produk makanan, tenggo = begitu teng jam 16.30 langsung GO ! Hehehe... Suatu hari kami bertiga (IT Department cuman bertiga) dipanggil, gak tanggung langsung ke Direksi, karena emang jalurnya langsung di bawah Direksi. Diceramahin macem-macem, yang masih muda lah, yang masih terang lah di luar sana (emang kudu nunggu gelap baru pulang Pak ?) Saya ada setujunya tuh sama Mbak Sya2, bahwa hak karyawan untuk bisa pulang pada waktunya. Namun setelah ditegur sama Bos, saya juga agak molorin lah sedikit, dari yang mestinya 16.30 (kami masuk jam 7.30, sabtu libur) jadi jam 17.15 atau 17.30, tergantung Bosnya udah pulang apa belum.  Tapi emang kadang-kadang si Bos ini gila kerja. Pernah dia pulang jam 9 malem, walaah... kalo di Medan saya belum banyak melihat fenomena ngelembur sampe jam segitu. Kalo di Jakarta mah, biasa kali ya... sambil nunggu macet. Tapi, ada tapinya deh... ngaku gak kalo di kantor ...

The 7 Habits of Highly Effective People

Supaya gak ilang ditelan zaman, ada baiknya disimpen sebagai harta yang cukup berharga. Summary of Stephen R. Covey's The 7 Habits of Highly Effective People In his #1 bestseller, Stephen R. Covey presented a framework for personal effectiveness. The following is a summary of the first part of his book, concluding with a list of the seven habits. Inside-Out: The Change Starts from Within While working on his doctorate in the 1970's, Stephen R. Covey reviewed 200 years of literature on success. He noticed that since the 1920's, success writings have focused on solutions to specific problems. In some cases such tactical advice may have been effective, but only for immediate issues and not for the long-term, underlying ones. The success literature of the last half of the 20th century largely attributed success to personality traits, skills, techniques, maintaining a positive attitude, etc. This philosophy can be referred to as the Personality Ethic . However, during the 150 y...