Skip to main content

4 Hari di Penang (update 2 with photos)

Biarin deh dibilang norak, narsis, yang penting hepi hehehe...

Abi mau ceritain pengalaman waktu jalan-jalan ke Penang (baca: pineng).
Setiap tahun, perusahaan kami memang selalu mengadakan Meeting keluar kota. Sejak abi gabung 2006 kami ke kota Padang.
2006 : Padang
2007 : Bandung
2008 : Bali
2009 : Penang - Malaysia

Jadi, berhubung judulnya "keluar negeri" pasti seneng lah

# HARI 1
------------------
Perjalanan ke Penang hanya sebentar, 35 menit sampe deh ke Bandara. Sepintas tak ada yang istimewa dengan Bandara di kota ini, hanya saja lantainya diberi karpet. Kami harus masuk dari pintu darurat disebabkan pintu utama sedang dalam perbaikan. Sekejap kemudian, antri dulu sebentar untuk mendapat cap dari administrasi bandara. Selesai paspor dicap, bingung deh kok gak ada yang jemput ya. Beberapa orang berusaha menelepon tapi gak bisa, walaupun sudah pake kode negara 0062+no hape panitia.  Syukurlah kebingungan kami tak berlangsung lama.  Pak Steven, dari pihak travel menyambut kami sekaligus minta maaf karena terlambat.  Kami sampai jam 13.00 WIB atau 14.00 waktu Penang. Katanya, jam anak sekolah pulang/bubar, jadi jalanan macet. Ooo...bisa juga toh luar negeri macet, hehehe...

Perjalanan sebelum ke hotel, kami dibawa dulu makan siang di Penang Fisherman Wharf, makanan laut. Laut benar-benar dekat. Ruang makan kami pada satu sisi kaca semua, sehingga dengan mudah kami bisa melihat pinggir pantai yang bersih.

Kami langsung dibawa ke Cititel, George Town, hotel di tengah kota Penang.
Sepanjang perjalanan, abi perhatikan ada pabrik-pabrik teknologi seperti Motorola (langsung berhadapan di depan Penang Fisherman Wharf tadi), ada Seagate yang terkenal sebagai produsen hard disk (taunya sampe situ doang, mungkin ada produk laen), dan banyak lagi.

Setelah check-in, mendapat nomor kamar dan meletakkan barang-barang, umi langsung ngajak hunting :) yah, maklum deh... mumpung hari masih menunjukkan pukul 16.00. Abi ok aja. Setelah menjamak qashar shalat, kami pun berangkat. Karena gak tau jarak, yaudah bareng 2 orang tetangga kamar naik taksi ke Komtar. RM 8 (setara +/- 25 ribu) eeh gak taunya... 3 menit saja udah sampai. Gubrak !!
Komtar juga bukan hal yang unik, seperti Mall biasa aja. Tapi gedung sebelahnya ada yang sampai 60 tingkat.  Naik ke atas sana, dikenakan biaya RM 15. Penjualnya beragam seperti penduduk kota ini : Melayu, India, dan Tionghoa (mayoritas).
Hunting hari pertama gak banyak bawaan kok, lebih ke arah survey lokasi. Jam menunjukkan pukul 18.30. Sudah waktunya pulang karena jam 19.00 kita akan dibawa jalan makan malam di luar. Pulangnya kami beranikan diri untuk berjalan kaki. Yak, ternyata dekat kok, dan... matahari masih tegar berdiri di sana. Jam segini masih siang, walaah..!!

Makan malam ... di pinggir pantai lagi, tapi nama restorannya lupa. Sebelum masuk, banyak aquarium yang berisi binatang-binatang (laut ?) seperti kepiting guede, lobster guede, udang guede, dan lain-lain.  Keluar dari resto, kita foto-foto sejenak dengan background pantai yang sudah gelap, gedung-gedung sekitar situ, dan monumen MAJLIS PERBANDARAN PULAU PINANG.

Pulang... istirahat...

# HARI 2
--------------------
Ketika abi meeting, umi dan teman-teman ibu-ibu dibawa keliling Penang, entah kemana

# HARI 3
-------------------
Pergi ke Bukit Bendera, herannya kok in english jadi Penang Hill ?? hehehe...

Ketinggian bukit ini kurang lebih 750 meter dari permukaan laut.  untuk mencapai ke puncak, kita naik kereta.  Foto di atas, adalah stasiun keretanya.  Tapi jangan bayangkan seperti kereta api ya. Keretanya ditarik oleh mesin di pertengahan dan puncak bukit. Ya, emang 2 kali naik kereta. Sampe di tengah bukit, kita ganti kereta. Track yang dilalui terjal sekali, sehingga walaupun naik kereta, capeknya juga terasa karena perjalanan ke atas memakan waktu +/- 15 menit/kereta => total waktu 30 menit. 

Di puncak bukit sebenarnya juga tidak ada obyek yang aneh. Di sana ada yang jualan makanan kacang-kacangan yang rasanya emang "beda" sih dengan lidah kita. Kemudian tato pacar khas orang India. Ada 2 tempat ibadah, untuk orang Hindu dan Masjid (Penang Hill Mosque). Kemudian ada satu buah meriam yang buesar yang rencananya dulu buat persiapan jika terjadi perang. Walaupun akhirnya sampe saat tulisan ini diturunkan tidak pernah 1x pun meletup

Sepulangnya dari situ, banyak yang ketiduran di bus. Itulah buktinya capek juga walaupun naik kereta ke atas bukit. oh iya, ngemeng-ngemeng bus, kalo di Penang ini sebutnya bas. Bas Persiaran = Bus Wisata. Bas yang warnanya kuning untuk anak sekolah, Bas warna biru untuk karyawan / pegawai kantor seperti antar-jemput gitu lah. Sedangkan untuk masyarakat umum, warnanya macem-macem, putih, merah dan sepanjang pengamatan abi gak ada tuh yang teriak-teriak macam kondekturnya. Tempat duduknya, walaupun sederhana, dari fiber, namun tersusun rapi. Agak mirip dengan bus di bandara yang menjemput penumpang yang baru turun dari pesawat untuk diantar ke terminal kedatangan.

Habis makan siang, kami ke Kek Lok Sie, yang katanya salah satu kuil Budha terbaik di Asia Tenggara. Terus terang, abi dan umi males kesana. Jadi jalan-jalan aja di bawah sambil liat-liat dan belanja souvenir.  Memang dari jauh bagus sih, tingginya 30 meter dengan 193 anak tangga. Yang bikin orang China, Burma dan Thailand dengan menghabiskan waktu 20 tahun. Kalo mau lihat gak usah jauh, googling aja "Kek Lok Sie" pasti dapet :)

Setelah itu ke Sleeping Budha. Disini juga abi umi males ke dalam, sama di luar aja liat-liat souvenir.
foto di atas diambil dari photobucket => cantik juga ya di waktu malam dan berhias.

Nah, selanjutnya yang seru adalah beli coklat. Kalo dilihat sebenarnya juga gak ada yang unik dari coklatnya. Rasanya macem-macem, mulai dari kelapa, durian, wijen, plain, kismis, dan yang bikin heboh adalah coklat "Tongkat Ali" yang disinyalir dapat meningkatkan vitalitas kaum Adam, hehehe... Yang gak tahan harganya euy... ckckck... paling murah RM 7 tapi kalo diangkat dan dikocok, kayaknya isinya dikit :)  Jadi kami gak beli disitu ah. Walaupun ada juga ibu-ibu yang belanja sampe RM 300 !!
Sampai ada GM yang bilang "Waktu beli sepatu Vincci, RM 30 (IDR 100k) aja nawar pake marah-marah, pas beli coklat sampe sejuta !! Gak ditawar"

Selepas dari hunting coklat, kita ke toko yang
jual ramuan Tongkat Ali tadi yang kebetulan jaraknya hanya 100 meter sebelum sampai ke hotel. Semacam toko cina yang jual obat-obatan tradisional. Tadinya abi malas turun, tapi kok setelah 15 menit orang di dalam gak keluar-keluar, jadi penasaran. Akhirnya tes deh, masuk ke dalam. Masuk antrian untuk mendapatkan minyak akar2an, yang katanya super hot. Cep..cep, 2 tetes ke telapak tangan, tempelkan di belakang leher, tunggu sampe panas, baru lepas.  Ah di Jakarta, Medan pun banyak yang kayak gini. Abi masuk ke dalam lagi. Wah banyak snack juga rupaya. Ada snack ikan, buah pala kering digulai, snack gurita (?), snack sarang burung yang bisa mencapai RM 150 !! dan macam lagi.  Nah bener deh, coklat disini, batangan, harganya cuma RM 10 isinya 6 batang. Sip deh, ambil satu dan snack buah pala manis. RM 14 kemudian abi keluar Tujuannya sih ngasih tau umi, strategi hunting coklatnya gak salah. Kalo mau ya nanti bisa beli lagi. Dan ...betul, "kenapa gak beli banyak bi ?" hehehe....

Belum tamat hari ini. Sampe ke hotel baru ja
m 17.00. Begitu taro tas, kami langsung berangkat lagi ke Komtar, karena list oleh-oleh yang dibikin umi masih ada yang belum dapet. Yang dicari apa, yang dibeli apa. Pulang malah beli sepatu, nyarinya coklat :) hehehe... Yah dapet juga sih tapi kami belinya di Giant swalayan. Yang begini enaknya, harga supermarket, ada label Malaysia, bisa laa jadi oleh-oleh
Habis belanja, pulang deh bawa plastik belanjaan segambreng hihihi...

# HARI 4
-------------------
Hari ini adalah kepulangan kami ke Medan. Tapi berhubung pesawatnya berangkat jam 15.00 dan check out dari hotel baru jam 11.30 jadi paginya selepas sarapan kami jalan lagi, tapi gak jauh-jauh kok, di seputaran hotel juga banyak pasar tradisional. Kami berangkat jam 9.00 masih banyak yang tutup dibanding yang buka. Cari gantungan kunci lagi di toko yang sama waktu hari pertama datang. Terus cari kaos buat abang Fatih, Abi, dan staff IT Tolan Tiga. Terus nyebrang ke MyDin. Di dalam bukan musik, tapi murottal. Dari sini, abi buat hipotesa awal bahwa MyDin = My Dien (agamaku). MYDIN ini seperti indomaret, alfamart gitulah. Kalo dibilang supermarket terlalu kecil, kalo dibilang swalayan kayak indomaret le
bih besar karena barang yang dijual juga lumayan lengkap. Disini kami dapet coklat tapi yang sudah dipisahkan dalam plastik kecil jadi kalo mau dibagi2 gampang.
Beres, pulang kami ke hotel, lagi2 bawa belanjaan segambreng tapi ringan kok barangnya.

Kota Penang tanahnya hampir habis, sehingga harga tanah di sana lumayan tinggi. Rusun di Indonesia, disini disebut apartment. Apartment swasta mahal, sehingga pemerintah juga membuat apartment, seperti perumnas di Indonesia, tapi bertingkat-tingkat (rusun).

Mobil yang bersliweran lebih banyak produk lokal, kalo gak mau dibilang berimbang lah dengan yang merk import. Kebanggan mereka adalah Proton. Kancil, versi terkecil dijual RM 25k (IDR 75-80 jutaan). Hingga kalangan orang kaya, dan pejabat negara juga pakai produk Proton yang harganya bisa RM 125k (IDR 400 jutaan). Harga mobil merk import dibuat sedemikian rupa sehingga lebih mahal untuk melindungi produk import. Proton adalah singkatan dari Perusahaan Otomobil Nasional.
"Pencurian" ilmu dan teknologi mereka garap dari Mitsubishi dan Daihatsu. Hmm... pasti bangga ya kalau bisa buat mobil sendiri seperti ini.

OK deh, segitu dulu ceritanya.
Semoga tahun depan ada cerita yang lebih seru lagi deh dari bumi Allah yang lain.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Setan tak bisa menembus dinding

Betapa kita, saya dan anda, seringkali salah kaprah tentang setan, dan jin. Film-film turut menanamkan pengertian yang salah. Berapa banyak film yang menggambarkan setan/jin itu bisa menembus dinding, tiba-tiba muncul di ruangan tertentu. Nampaknya hadits berikut menjadi salah satu kabar yang menutup kesalahan pemahaman tersebut. Dari Jabir ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda:“Tutuplah bejana, ikatlah tempat air, tutuplah pintu-pintu dan padamkanlah lampu, sesungguhnya setan itu tidak akan bisa melepaskan ikatan, tidak bisa membuka pintu dan tidak bisa membuka bejana. Seandainya salah seorang diantara kalian tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk menutupnya kecuali hanya meletakkan lidi di atas bejana itu, maka lakukanlah yang demikian itu dengan menyebut nama Allah,karena sesungguhnya tikus itu bisa menyebabkan terbakarnya rumah.” (HR. Muslim)

Pulang Tenggo [mirip tengbur]

Kalo Mbak Sya2 punya pengalaman tengbur, saya ada pengalaman Tenggo. Tenggo ini bukannya produk makanan, tenggo = begitu teng jam 16.30 langsung GO ! Hehehe... Suatu hari kami bertiga (IT Department cuman bertiga) dipanggil, gak tanggung langsung ke Direksi, karena emang jalurnya langsung di bawah Direksi. Diceramahin macem-macem, yang masih muda lah, yang masih terang lah di luar sana (emang kudu nunggu gelap baru pulang Pak ?) Saya ada setujunya tuh sama Mbak Sya2, bahwa hak karyawan untuk bisa pulang pada waktunya. Namun setelah ditegur sama Bos, saya juga agak molorin lah sedikit, dari yang mestinya 16.30 (kami masuk jam 7.30, sabtu libur) jadi jam 17.15 atau 17.30, tergantung Bosnya udah pulang apa belum.  Tapi emang kadang-kadang si Bos ini gila kerja. Pernah dia pulang jam 9 malem, walaah... kalo di Medan saya belum banyak melihat fenomena ngelembur sampe jam segitu. Kalo di Jakarta mah, biasa kali ya... sambil nunggu macet. Tapi, ada tapinya deh... ngaku gak kalo di kantor ...

The 7 Habits of Highly Effective People

Supaya gak ilang ditelan zaman, ada baiknya disimpen sebagai harta yang cukup berharga. Summary of Stephen R. Covey's The 7 Habits of Highly Effective People In his #1 bestseller, Stephen R. Covey presented a framework for personal effectiveness. The following is a summary of the first part of his book, concluding with a list of the seven habits. Inside-Out: The Change Starts from Within While working on his doctorate in the 1970's, Stephen R. Covey reviewed 200 years of literature on success. He noticed that since the 1920's, success writings have focused on solutions to specific problems. In some cases such tactical advice may have been effective, but only for immediate issues and not for the long-term, underlying ones. The success literature of the last half of the 20th century largely attributed success to personality traits, skills, techniques, maintaining a positive attitude, etc. This philosophy can be referred to as the Personality Ethic . However, during the 150 y...