Sudah beberapa minggu ini abi dan umi asyik jalan-jalan berdua. Tanpa kehadiran Abang Fatih dan dedek Faqih, terkadang memang perlu meluangkan waktu berdua saja. Pegangan tangan, bercanda-canda. Ledek-ledekan. Lepas. Lega.
Alhamdulillah, sakitnya Wak Sal(biyah) rupaya membawa kenikmatan tersendiri bagi kami. Dulu, waktu dia sakit, kami bingung. Umi harus praktek, tapi gak ada yang jagain adek. Kalau umi harus ngantar abang sekolah, dedek sama siapa ? Syukurlah semuanya bisa ditangani dengan baik. Abang dijemput oleh Pak Agus saja, becak motor langganan. Jadi umi bisa bersama adek di rumah. Umi masih belum pede kalo harus membonceng 2 abang adik, takut jatuh katanya. Kalo abi, karena jangkauan tangan yang panjang, mudah saja menempatkan abang dan adek di bagian depan kereta (sepeda motor).
Seminggu saja umi kesulitan menemui pasien, karena harus menjaga dedek. Abi gak bisa bantu apa-apa, otomatis, karena tugas utamanya ngantor. Sakit Wak Sal, pengasuh dedek, agak aneh. Membuat lemas dalam jangka waktu lama. Ketika kami besuk, wajahnya sih baik-baik saja. Namun kok dari rumah sakit belum memberikan keterangan sakitnya apa. "Belum ketemu", ringkasnya.
Alternatif pertama, Bu Dewi, pengasuh abang Fatih waktu masih kecil kami datangkan. Tapi Bu Dewi sekarang sudah ada kerjaan tetap sebagai pengantar tofu/tahu setiap pagi. Jadi seminggu pertama dia dateng jam 10 pagi. Gak apa lah, yang penting umi bisa aktifitas. Kondisi ini gak bisa berlangsung lama, makanya... alternatif kedua pun harus dijalankan.
Kak Husna, sekarang sudah hampir sebulan menemani kami di rumah. Masih kuliah sabtu-ahad. Tapi subhanallaah, kami jadi tenang meninggalkan anak-anak di rumah. Bukan saja orang shalihah, makan bangku sekolahan, tapi juga gemar mengaji. Kami tidak khawatir meninggalkan anak-anak dengan tayangan televisi. Jadi deh.... abi umi bisa pacaran kemana-mana
Alhamdulillah, sakitnya Wak Sal(biyah) rupaya membawa kenikmatan tersendiri bagi kami. Dulu, waktu dia sakit, kami bingung. Umi harus praktek, tapi gak ada yang jagain adek. Kalau umi harus ngantar abang sekolah, dedek sama siapa ? Syukurlah semuanya bisa ditangani dengan baik. Abang dijemput oleh Pak Agus saja, becak motor langganan. Jadi umi bisa bersama adek di rumah. Umi masih belum pede kalo harus membonceng 2 abang adik, takut jatuh katanya. Kalo abi, karena jangkauan tangan yang panjang, mudah saja menempatkan abang dan adek di bagian depan kereta (sepeda motor).
Seminggu saja umi kesulitan menemui pasien, karena harus menjaga dedek. Abi gak bisa bantu apa-apa, otomatis, karena tugas utamanya ngantor. Sakit Wak Sal, pengasuh dedek, agak aneh. Membuat lemas dalam jangka waktu lama. Ketika kami besuk, wajahnya sih baik-baik saja. Namun kok dari rumah sakit belum memberikan keterangan sakitnya apa. "Belum ketemu", ringkasnya.
Alternatif pertama, Bu Dewi, pengasuh abang Fatih waktu masih kecil kami datangkan. Tapi Bu Dewi sekarang sudah ada kerjaan tetap sebagai pengantar tofu/tahu setiap pagi. Jadi seminggu pertama dia dateng jam 10 pagi. Gak apa lah, yang penting umi bisa aktifitas. Kondisi ini gak bisa berlangsung lama, makanya... alternatif kedua pun harus dijalankan.
Kak Husna, sekarang sudah hampir sebulan menemani kami di rumah. Masih kuliah sabtu-ahad. Tapi subhanallaah, kami jadi tenang meninggalkan anak-anak di rumah. Bukan saja orang shalihah, makan bangku sekolahan, tapi juga gemar mengaji. Kami tidak khawatir meninggalkan anak-anak dengan tayangan televisi. Jadi deh.... abi umi bisa pacaran kemana-mana

Comments
Post a Comment